SOCIAL MEDIA

Minggu, 17 November 2019

Di Balik Cerita Kamar Mandi Mertua




Memantik kembali kesukaan saya pada cerita-cerita fiksi, hadirnya website Ngodop seakan jadi obat rindu akan cerpen yang nyastra dan bernas.

Kali pertama saya berkunjung ke rubrik Lakon, wadah cerita-cerita pendek kontributor Ngodop tersalurkan, saya langsung tertarik dengan judul cerita Kamar Mandi Mertua. Ada kisah seru apa yang mengangkat topik kamar mandi dan milik mertua pula.

Tema

Judul yang dipilih penulis sangat sederhana, dekat dengan keseharian, namun menarik menggabungkan dua kata benda tersebut. Saya pikir konflik cerita akan terpusat pada mertua yang terpeleset di kamar mandinya lalu terserang stroke. 

Memasuki paragraf-paragraf awal tentang deskripsi kamar mandi, lalu membicarakan tokoh Sari yang menjadi bunga desa, saya agak meraba-raba akan dibawa kemana tema cerita pendek ini.

Begitu memasuki adegan Sari membawa kardus lalu keesokan harinya ditemukan seorang bayi, saya merasa penulis memberikan kritik sosial yang tajam lewat cerita ini.

Faktor Wow

Deskripsi kamar mandi yang dibuat oleh penulis detail dan apik. Satu paragraf deskripsi saja langsung bisa membuat saya menskenariokan kamar mandi yang terpisah dari rumah utama yang memang banyak dijumpai di pedesaan. Meskipun membicarakan tentang kamar mandi, efek jijik dan jorok yang penulis munculkan, bagi saya tidak muncul dari aktivitas buang hajat, melainkan perbuatan-perbuatan lain yang tidak senonoh yang mungkin terjadi di kamar mandi.

Cara penulis mengungkapkan aktivitas-aktivitas 'kotor' di dalam kamar mandi mertua sungguh canggih. Mulai dari kisah memakan makanan milik adik, perselingkuhan, perzinaan, hingga ibu yang menumpahkan kesedihan di kamar mandi, sukses membuat saya tercekat.

Ruangan di dalam rumah yang mungkin dianggap tidak indah, menjijikkan, dan sejenisnya, ternyata menyimpan banyak rahasia. Penulis sangat ciamik mengangkat derajat kamar mandi lewat kisah ini. Tersampaikan dengan sukses bila maksud penulis ingin mengulik sisi lain dari sebuah kamar mandi. Pun cara penulis meramu isu-isu sosial di pedesaan yang sangat menyentuh.

Baca Ini Juga Yuk: Sang Pembawa Pesan (1)


Mengenai konflik, saya dengan sok taunya berpikir penulis hanya akan berkutat dengan kritik sosial soal bunga desa yang hamil di luar nikah. Ternyata, penulis memainkan konflik lain dengan sangat mencengangkan lewat peran tokoh aku. Tidak hanya menjadi pengamat, tokoh aku juga terlibat konflik dengan Sari, yang saya pikir adalah satu-satunya tokoh utama. Nyatanya, si aku lah yang membawa pesan penting tersirat dalam cerita ini.

Tidak hanya kritik sosial terhadap kehidupan pedesaan, penulis juga sukses memasukkan konflik keluarga (perselingkuhan) yang hits ke dalam cerita.

Sedikit Kritik

Perpindahan konflik utama dari tokoh Sari ke tokoh aku, meskipun berlanjut kepada klimaks, ternyata juga menjadi salah satu kelemahan dari cerita ini. Penjelasan mengenai hubungan Sari dan Marbun di akhir cerita, rasanya disampaikan 'nanggung' alias kurang mantap dan terburu-buru. Meskipun secara keseluruhan konflik-klimaks-penyelesaian yang dimunculkan cukup 'nendang'.

Kritik berikutnya, saya mendapati kalimat yang janggal berikut ini,

Apa yang mungkin dilakukan dua orang yang berada jenis kelamin di dalam kamar mandi yang sepi, gelap, dan tersembunyi? 

Sepertinya ada satu kata yang salah ketik. Seharusnya berbeda, malah ditulis berada.

Bagi saya, salah ketik tersebut cukup mengganggu karena saya pribadi berpendapat typo atau salah ketik pada hasil karya tulisan profesional seperti berita, artikel populer, maupun cerita pendek di situs web seperti ini mengurangi kredibilitas tulisan itu sendiri.

Tertarik membaca karya Mabruroh Qosim ini?

Link hidup sudah otomatis mengarahkan pada website cerita tersebut berasal.

Selamat menikmati bibit karya sastra yang sebentar lagi makin banyak berkembang!


Tidak ada komentar :

Posting Komentar