SOCIAL MEDIA

Kamis, 14 November 2019

Belajar Parenting dari Orang Denmark: Review Buku The Danish Way of Parenting


Membaca buku parenting menjadi penyemangat tersendiri buat saya. Selain juga ngademin hati saat lagi sering-seringnya marah atau kesal karena tingkah polah anak 2 tahun yang sedang heboh-hebohnya.

Menjadi motivasi diri juga bahwa sebagai IRT, Stay at Home Mom, atau apapun itu lah namanya, dengan kemauan belajar soal parenting, saya bisa jadi seseorang yang berguna dan dibutuhkan. Lebih jauh lagi, saya juga terdorong untuk menjadi orang tua yang berkualitas. Nggak cuma jadi orang tua yang melahirkan anak secara biologis, tapi ada ideologi yang juga saya lahirkan ke anak.

Halah, muluk amat yak. Emang harus begini biar kepercayaan diri meningkat! (Ups, buat diri saya aja ini, wkwkwk).

Suatu hari, teman saya update status Whatsapp dengan jepretan foto rak buku yang penuh. Di antara buku-buku miliknya, ada buku, The Danish Way of Parenting. 

Sering saya lihat ibu-ibu muda mengutip teori parenting dari buku ini. Membuat saya tertarik membaca, tapi belum kesampaian, hingga saat teman saya update status dan membolehkan saya meminjam buku tersebut.

Kesepakatan awal saya diberi waktu sebulan untuk menyelesaikan dua buku. Ternyata, dalam kurun waktu yang disepakati, saya cuma bisa baca satu buku!

Leletnya saya dalam membaca karena banyak distraksi gadget dan ngantuk! Padahal menurut saya buku ini cukup tipis, bahasanya pun nggak terlalu berat, meskipun beberapa terjemahan menurut saya cukup ganjil alias aneh, tapi nggak mengganggu esensi yang ingin disampaikan Jessica dan Iben.




Menariknya


Menariknya buku ini adalah sudut pandang yang dipakai untuk menjelaskan teori yang kadang bikin kening berkerut. Memosisikan sang penulis, Jessica dan Iben, layaknya teman sesama orang tua. Meskipun mereka pakar, tapi kebahasaan yang dimunculkan membuat saya pribadi merasa dekat dengan Jessica dan Iben layaknya teman sekomunitas. Padahal, ya, mereka nun jauh di sana.

Kedua penulis yang bersinggungan dekat dengan keluarga Denmark, membuat saya merasa bahwa teori bahagia ala orang Denmark yang dimunculkan dalam buku bukan omong kosong belaka, melainkan sesuatu yang penulis rasakan dan jalankan sendiri.

Buku ini salah satu buku parenting yang jenius, sebab bisa menyentuh kebutuhan orang tua masa kini. Bahwa anak yang dilahirkan sebagai generasi Alfa, tidak akan dididik dengan cara dibentak atau dipukul dengan sapu. Harus ada terobosan baru untuk mengubah cara mendidik jaman baheula, agar generasi Alfa jauh lebih baik dari generasi yang ada saat ini.

Pemakaian standar bahagia dalam buku ini menjadi hal yang sangat menarik. Ukuran anak yang pintar, cantik atau ganteng, tinggi, kaya, dan yang sejenisnya mungkin tidak akan menjadi standar yang berarti di masa depan. Tetapi, bahagia? 

Jessica dan Iben menunjukkan bahwa standar bahagia orang Denmark berefek positif. Baik untuk tumbuh kembang anak, maupun untuk memajukan sebuah negara. Maka nggak heran kalau dalam salah satu bab diceritakan, ada profesor di India yang hendak menyebarluaskan teori parenting ala orang Denmark ini.

Baca Ini Juga Yuk: Wanita (Harus) Bekerja?


How to


Menjadikan anak kita sebagai anak yang bahagia tentu bukan proses yang instan. Lewat teori yang disingkat menjadi PARENT. Jessica dan Iben menjelaskan cara-cara taktis yang bisa menjadi panduan. 

Apa itu PARENT?
Play
Autentisitas
Reframing (Memaknai Ulang)
Empati
No Ultimatum (Tanpa Ultimatum)
Togetherness and Hygge (Kebersamaan dan Kenyamanan)

Cara yang dijelaskan dalam buku menurut saya cukup aplikatif. Meskipun mungkin saat sekilas membaca terbersit dalam hati, 'Duh, bisa nggak, ya,' Antara meragukan diri sendiri dan nggak yakin bisa mengkondisikan anak.

Misal dalam kasus saya, saat ingin menerapkan No Ultimatum alias Tanpa Ultimatum. Itu praktiknya harus putar otak banget. Mungkin karena ketika ingin memberi peringatan ke anak sudah telanjur terbiasa menggunakan redaksi kata, Jangan! Ketika mau mengubahnya, beneran yang harus mikir supaya kata itu menjadi sebuah kalimat yang reasonable.

Buku ini menantang saya pribadi untuk menjadi orang tua yang mau berpikir dan mau berubah. 

Beberapa kali saya mendapatkan quote, sebenarnya ketika kita mendidik anak, kita mendidik diri sendiri, itu benar adanya.

Belajar parenting salah satunya lewat buku ini, membuat saya ikut belajar lagi akan hal-hal yang sebelumnya sifatnya insting atau warisan orang tua terdahulu.

Sangat saya rekomendasikan bagi ayah, ibu, maupun calon-calon ayah-ibu, untuk membaca dan mengoleksi buku ini.

Ngomong-ngomong, ada yang sudah baca? Gimana pendapatnya setelah membaca The Danish Way of Parenting?



Judul Buku : The Danish Way of Parenting
Karya: Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissing Sandahl
Penerjemah: Ade Kumalasari dan Yusa Tripeni
Penerbit: PT Bentang Pustaka (Mizan Media Utama)
Jumlah Halaman: 184 halaman
Harga: Rp 59.000 (via Mizanstore)

35 komentar :

  1. Denmark mmg salah satu negara plg bahagia di dunia. Itu sebabnya tips parenting ala denmark jadi kian dipercaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba. Semua orang tua ingin anaknya bahagia tentunya :)

      Hapus
  2. Waduh, bukunya wajib dibaca para orang tua, termasuk saya yang selalu merasa kewalahan menerapkan teori parenting yang sesuai. Yang ada kerap saya mengeluh pada suami kalau anak mulai banyak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya.
    Yang terpenting adalah membuat anak bahagia dengan cara positif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mba, recommended untuk dibaca :)

      Hapus
  3. Tiap ortu kudu banget semangat mengarungi dunia parenthood ini, suka maupun duka kudu dijalani.
    Bukunya seruuu, bernas dan bergizi ya Mbaaa
    Mau banget buat baca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul semangat sambil cari input2an. Yuuuk cari di toko buku terdekat :)

      Hapus
  4. Menjadikan bahagia sebagai parameter keberhasila prndidikan, bgtkah maksudnya mba? Wah jadi ingin membaca buku ini juga..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Parameter dalam membesarkan&mendidik anak lebih tepatnya, mba :)

      Hapus
  5. setiap orang tua wajib memiliki kemampuan tersendiri. Kakak bukunya udah dijual diseluruh gramedia di indonesia nggak yah penasaran juga soalnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya ada mba. Kalau nggak nemu bisa ke online store :)

      Hapus
  6. Saya juga punya buku ini tapi entah dimana sekarang lupa simpannya hehehe. Dulu saat anak balita saya merasa perlu banget dapat info dan wawasan gimana jadi orang tu bahagia. Eh dapatnya ya buku ini. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, wajib dicari tuh, mba. Buat dibaca2 lagi atau kali2 ada yg mau minjam :)

      Hapus
  7. Ini buku incaran aku karena kapan yah waktu itu banyak yang review buku ini cuss ah beli kepoin di mizan :)

    BalasHapus
  8. Buku yang wajib dibaca buat keluarga baru seperti saya nih memang memperlakukan anak generasi alfa sama dibanding anak generasi kita sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tipo maksudnya "tidak sama" hehe maaf

      Hapus
    2. Iya, mba, recommended utk masuk list bacaan. Betul, semoga kita bisa menjadi generasi yg lebih baik dlm memperlakukan anak2 :)

      Hapus
  9. Anak harus bahagia bener juga sih, dengan bahagia mereka bisa menjadi Anak yang cerdas dan lainnya. Supaya Anak bahagia nah tugas orangtua ya. Bagus juga bukunya ya. Duh Kiran aku aja yang let baca buku, dulu buku tebal pun bisa dibaca dengan ceoat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju :)
      Bagus banget mba. Iya ini bukunya tipis tapi saya lama bacanya.

      Hapus
  10. Saya blm baca bukunya. Tetapi sepertinya menarik sekali. Apalagi baru mengikuti kelas parenting dengan penjelasan yang kurang lebih sama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, mantap! Saling melengkapi ya, mba :)

      Hapus
  11. Duh, kayaknya harus punya bukunya nih.
    Belakangan ini lagi merasa kurang sabaran banget menghadapi anak2 yang suka banyak maunya dan selalu punya argumen, kadang suka males debat pengennya sih langsung nurut aja hahaha

    Tapi anak zaman sekarang gak bisa diperlakukan kayak gitu sih yah haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, harus gercep ibunya cari strategi supaya tetep sabar :)

      Hapus
  12. Salab satu buku parenting yang saya incar nih. Beneran, penasaran dengan isinya cuma belum kesampaian aja bacanya. Semoga suatu hari bisalah baca buku ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin! Yg penting diniatin dulu, ya, mba :)

      Hapus
  13. No Ultimatum, hal ini yang sedang saya usahakan untuk menarapkannya. Tapi kadang suka nggak berasa keucap aja gitu haha. Baru deh nyadar sehabia diucapkan. Duuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun juga gitu, mba :) Gapapa asal terus dilatih #memotivasidirisendiri

      Hapus
  14. Sebagai orangtua memang harus terus belajar ya.. banyak sumber untuk bisa belajar, karena menjadi orangtua memang tidak ada sekolahnya dan buku menjadi salah satu media pembelajaran bagi orangtua agar bisa menjalankan peran dengan baik sehingga menghasilkan generasi yang unggul ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mba :) Harus dijadwalin agenda membaca buku menurut saya.

      Hapus
  15. Unik ya metode parentingnya, aku jadi penasaran sama bukunya dan pengen baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mba. Jadi terobosan baru di dunia parenting. Yuks cari bukunya :)

      Hapus
  16. menarik memang ya melihat cara orang - orang dan keluarga Nordik, khususnya Denmark, mendidik anak - anak mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, sungguh menarik, krn beda mungkin, ya, dari yg biasa terjadi terutama di Indonesia.

      Hapus
  17. Play
    Autentisitas
    Reframing
    Empati
    No Ultimatum
    Togetherness

    Menarik ya mbak. Masalah parenting emang gak ada abisnya kalau dibahas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mba, topik yg selalu menarik utk orang tua :)

      Hapus