SOCIAL MEDIA

Rabu, 16 Oktober 2019

Curhatan Pengen Liburan dan Darimana Uangnya?


Mulai oleng beberapa waktu ini karena kerjaan ngurus rumah berasa monoton dan dikerjain kayak robot. Hari ini mau ngerjain A B C D E. Habis ngerjain A lanjut B lanjut C lanjut D dan terus aja. Di satu sisi bangga karena semua terjadwal. Tapi, di sisi lain, jemunya oh. Setelah mikir-mikir, wajar kalau merasa begitu, karena jatah menyendiri amat kurang.



Menyendiri alias me time buat saya nggak cuma jadi hiburan semata. Tapi, juga sebagai waktu jeda biar lebih refresh dari segala rutinitas. Apalagi buat ibu-ibu di rumah, yang ketemunya tempat cuci piring, cuci baju, dapur, kasur, ruang main anak, begitu terus. 

Kalau mau jahat (ea!) ngebandingin sama yang kerja, rada bisa ngakalin, misal bosen makan siang sama geng nasi padang, bisa ganti soto betawi, atau bakmie jakarta. Serius ini nggak apple to apple sih ngebandinginnya, LOL. Intinya, ibu rumah tangga maupun yang bekerja sama-sama rentan bosan. Tinggal kreativitas masing-masing nemuin cara ngatasin kebosanan itu. Nah, buat saya, liburan atau rihlah bisa jadi salah satu momen buat ngatasin kebosanan. (Dari me time ke liburan, anggap saja nyambung).

Baca Ini Juga: Menikmati Siang


Nggak ada jangka waktu ideal, kapan kita harus liburan. Menyesuaikan budget aja lah salah satu pertimbangan saya. Kalau ada budget 3 bulan sekali, alhamdulillah. Kalau adanya setahun sekali sekalian momen lebaran, bersyukur aja masih bisa liburan. Mikirnya kalau maksain liburan, tapi nggak sesuai budget malah nambah beban pikiran setelah liburan.

Pos keuangan anggaran liburan gini darimana? Duh, lupa baca di blog atau ig mba Windi Teguh atau Annisast. Cuma seinget saya, duit liburan itu sebaiknya direncanakan. Jadi, liburan itu bukan sesuatu yang dilakukan mendadak. Tapi, udah direncanakan dari jauh-jauh hari. Atau kalau memang yang pegawai dapat jatah uang cuti, bisa memanfaatkan bonus tersebut. Baru inget, ada juga lomba blog yang hadiahnya tiket PP destinasi suatu negara atau kota.

Gimana Cara Menyusun Anggaran Liburan?


Seinget saya dan ditambah improvisasi;

1)Tentukan destinasi tempat liburan
2)Bakal ke sana naik apa (Bakal pake jalur udara atau laut atau darat)
3)Bikin itinerary (Supaya tahu biaya-biaya semacam tiket tempat wisata, dan yang sejenis)
4)Bakal nginep dimana dan berapa hari
5)Biaya makan (Harus dilebihin budgetnya kalau liburannya buat wisata kuliner)
6)Biaya transportasi selama di tempat tujuan
7)Biaya oleh-oleh (Ini nomor terakhir. Prioritaskan kebahagiaan kita dahulu)

Setelah list item itu disusun, bagi deh dengan jangka waktu kapan kita bakal berangkat liburan, supaya ketemu jumlah yang harus kita tabung sampai menuju waktu liburan. Eh, tapi, kalau liburannya pakai jalur udara alias naik pesawat, better beli tiket duluan. Jadi, mungkin harus prioritaskan uang buat beli tiketnya. Betul nggak?

Misal total budget/anggaran liburan sebesar 5 juta rupiah. Kita pengen liburan di awal tahun 2020, asumsi pakai jalur darat. Kalau sekarang bulan Oktober, berarti ada November dan Desember buat menabung. Masing-masing bulan menyisihkan 2.5 juta. Tiap hari menyisihkan sekitar 83 ribu rupiah. Lumayan berat buat saya nyisihin segitu setiap hari. Misal saya setiap hari cuma bisa menyisihkan 10 ribu rupiah, berarti saya baru bisa liburan 1 tahun 4 bulan lagi. Nggak apa-apa lah. 

Kata Arai di Sang Pemimpi, 'Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.' Sambil banyakin do'a, karena hanya do'a yang mampu mengubah takdir. Mungkin hitung-hitungan manusia, dengan menyisihkan 10 ribu, saya baru bisa tahun depan dan tahun depannya lagi bakal liburan, tapi dengan kuasa Allah, siapa yang tahu, kan? Duh, pengen liburan detected.

Merasa butuh liburan karena dua hal.

Pengen lepas dari rutinitas di rumah, dan,


Pengen 'berdiam' sejenak

Sambil coret-coret lagi target yang udah dibuat dan bikin evaluasi. Kira-kira masih relevan nggak targetan atau cita-cita tersebut. Pengen bikin map langkah-langkah taktis hasil buah pikiran yang memenuhi kepala. Hal yang kayak gini, saya merasa nggak bisa ngerjain di rumah, karena kalau di rumah itu hawanya mikirin masak lagi, nyuci lagi, dan seterusnya. Intinya emang pengen liburan yang jauh dari rumah.

Ada yang pernah ngerasain kayak begini? Ku harus gimana kalau belum bisa liburan?

Pinterest
NB. Hasil googling singkat, ternyata mikirin planning liburan aja udah bisa bikin bahagia. Wah-wah, sungguh bahagia itu sederhana.
[Baca Selanjutnya...]

Senin, 16 September 2019

Review Salon Muslimah Az-Zahra di Bandar Lampung






Mencari salon muslimah di Bandar Lampung itu sebenarnya enggak susah. Beberapa lokasinya di tengah kota, pinggir jalan utama Bandar Lampung. Rate biaya salon yang sudah pernah saya coba, meskipun sedikit mahal, masih bisa dimaklumi.

Alhamdulillah hari ahad sepekan yang lalu, saya dapat izin dari suami untuk potong rambut. Setelah janjian dengan seorang teman, saya pergi ke salon muslimah Az Zahra, rekomendasi guru ngaji yang massage dan facial di sana. Kabarnya pelayanannya memuaskan dan biaya salonnya pun murah.

Karena berangkat kesana sore hari, mikirnya enggak akan antre. Eh, ternyata, harus nunggu 2 customer sebelum kami bisa treatment. Nunggu antriannya sambil ngantuk-ngantuk karena suasana rumah yang adem.


Ruang Tunggu Salon
Salah Satu Sudut Tempat Perawatan

Tips dari mbak-mbak pegawai Az Zahra, kalau sabtu-ahad lebih baik whatsapp dulu untuk janjian mau perawatan apa, supaya pas ke salon enggak nunggu terlalu lama. Mbaknya juga merekomendasikan hari senin, kalau mau perawatan di hari yang relatif sepi. 

Kemarin memilih weekend, supaya anak saya bisa ditinggal di rumah dengan ayahnya. Tapi, setelah tahu lokasi Az Zahra, kayaknya mau bawa anak ke salon juga enggak masalah. Asal enggak antre, perawatannya enggak kelamaan, mungkin perawatan yang sekitar 1 jam saja, kalau anak saya Insya Allah masih bakal bisa dikondisikan.

Baca Ini Juga: Rekomendasi Restoran Ramah Anak di Bandar Lampung


Saya nyobain potong rambut dan creambath. Overall, potongannya oke, meskipun saya kurang puas karena saya salah memilih model. Ibu yang memotong rambut, sekaligus owner salon, ramah banget. Pelayanan creambath juga oke. Meskipun enggak pakai alat yang kayak kepala kita dipakein helm gede gitu. Biaya 2 perawatan tersebut 85 ribu saja. Murah, kan? Kata saya sih, yes.

Teman saya massage, steam, refleksi, juga enak, pijatan oke, biaya juga murah, hanya 70 ribu saja. Ruangan untuk massage, facial, dan perawatan badan, diputarkan nasyid atau murottal. Makin bikin adem pikiran, wajah, badan, dan hati kita.

Poin plus yang bikin Az Zahra spesial adalah kesan salon yang homey, berasa perawatan di rumah sendiri. Meskipun ruangan perawatannya mungil, tapi enggak mengurangi efek nyaman saat nyalon. Pegawai-pegawainya pun ramah, saat ngajak ngobrol udah kayak teman sendiri. 

Recommended deh salon ini untuk dijadikan destinasi me time.

Price List
(Lumayan kalau harus ngantri bisa sambil nge-mie :)

FYI, salonnya tutup setiap rabu.

Lokasi Az Zahra relatif mudah dicari meskipun enggak di jalan utama Bandar Lampung. Kalau dari arah rel kereta api menuju RS Urip, salon ada di sebelah kiri jalan, bentuk salonnya selayaknya rumah biasa, bukan model bangunan ruko. Alamat lengkap salon Jl. Urip Sumoharjo No.141, Gn. Sulah, Kec. Sukarame, Kota Bandar Lampung, Lampung 35132 atau bisa juga search via google maps. Ada dua Salon Muslimah Az Zahra, nah, yang saya kunjungi ini yang ada di jalan Urip.

Semoga bermanfaat dan selamat me time, buibu :)

Pojok Mushola
[Baca Selanjutnya...]

Rabu, 11 September 2019

Salah Mengatur Keuangan di Masa Lalu


Saya baru melek mengatur keuangan setelah menjadi ibu rumah tangga. Sebelumnya, terutama sebelum menikah, sekadar tahu aja. Menyusun pengalokasian, tapi nggak ideal, karena merasa, yang penting cukup buat makan, bayar kosan, jajan, ongkos, done.


Kesalahan Utama

Kesalahan di masa lalu yang saya sadari fatal adalah tidak memikirkan pentingnya menabung atau investasi. Entah dulu itu karena gaji ngepas atau emang dasar lagi seneng-senengnya jajan dari hasil keringat sendiri.

Padahal berapapun gaji atau pemasukan, bakal tetep bisa menabung tergantung gimana kita mengatur diri. Makanya, banyak pakar finansial menyarankan menabung itu di awal gajian. Bukan dari uang sisa.

Sedih deh, habis resign dulu itu beneran cuma ngandelin gajian terakhir karena nggak punya tabungan yang mumpuni.

Uang Habis Kemana?

Jajan! Malu sebenarnya mengakui hal ini. Tapi, emang penyakit saya dari dulu (sekarang lagi (berusaha) diobati) adalah seneng banget makan enak yang artinya jajan di mall. Keknya ada deh sebulan itu lebih dari satu kali makan di mall yang satu bill itu minimal 60-70 ribu. Kalau 2 minggu sekali ke mall, udah habis uang hampir 150 ribu. Itu baru makannya doang, belum kalau sama nonton. Alhamdulillah dulu zaman saya kerja itu belum hits kopi-kopi cantik, eh, dan sekarang pun saya juga kurang suka. Jadi, uang aman dari ngopi cantik. Tapi, tetep aja buat jajan yang lain.

Nggak apa-apa sekali-kali jajan, biar ada momen melakukan penghiburan diri salah satunya memanjakan lidah. Asal jangan kebablasan kayak saya.

Akibat suka makan enak, saat makan sehari-hari pun, maunya cari tempat makan yang enak. Minimal 20 ribu dikeluarin buat sekali makan. Minimal lho itu.

Belum lagi sebagai wanita yang doyan online shopping. Ada aja sebulan itu beli tas lah, dompet, dan lain-lain. Bener-bener penyakitnya itu terlalu konsumtif.

Mending ya, konsumtif diiringi ulet mencari tambahan pemasukan yang lain, tapi, sayangnya saya nggak gitu. Duh, banget kan.

Baca Ini Juga: Review Buku: Habiskan Saja Gajimu!


Harus Bagaimana?

Biarlah yang sudah terjadi. Saya merasa sedikit lebih baik dalam mengatur keuangan setelah menikah. Salah satu sebabnya mungkin karena suami cukup sering ngasih wejangan, 'Ayo, pikirin nabung! Investasi! Uangnya jangan abis buat yang konsumtif aja'. Sebab lainnya, efek tambah tua. Jadi mulai berpikir tentang biaya pendidikan anak ke depan, dana darurat, dan lain sebagainya.

Buat saya ada 3 hal penting untuk menambal kesalahan keuangan yang saya buat di masa lalu.

1)Temukan Why Factor
Harus tahu persis, kenapa kita mau mengelola keuangan supaya lebih baik. Kenapa harus menabung, investasi, dll. Kenapanya itu harus kuat, supaya kalau merasa mulai kocar-kacir ngatur uang, merasa boros banget, saat ingat tujuan finansial, kita jadi lebih mudah untuk bangkit.

Misal nih, untuk yang pada belum menikah, pengen nabung untuk biaya pernikahan, untuk biaya ikut tes IELTS atau TOEFL, untuk ikut pelatihan bisnis, dan lain sebagainya. Bahkan kalau pengen sedekah lebih besar lagi pun perlu dianggarkan dan diatur. Nggak bermaksud menghitung-hitung pakai hitungan manusia soal sedekah, cuma sebagai langkah antisipasi aja, biar sedekah itu juga di awal, nggak pakai uang sisa yang belum jelas ada atau nggak. Kalau di akhir bulan ternyata anggaran yang kita buat masih bersisa banyak, ya, nggak apa-apa kalau mau disedekahin semuanya. Ini antisipasi aja kalau yang terjadi sebaliknya.

Baca Ini Juga: Integritas Para Penjual


2)Membangun Vibes
Salah satunya follow akun-akun yang memang memotivasi untuk mengatur keuangan.

Perlu diingat, bahwa mengatur keuangan ini kalau saya pribadi bukan untuk bikin khawatir lantas ngerasa kurang dengan gaji atau uang yang kita miliki. Tapi, lebih ke bentuk rasa syukur untuk mengelola amanah dari Allah, berupa gaji atau harta yang titipan semata ini. Kita kelola supaya hidup lebih baik. Nggak melulu konsumtif, tapi harta kita bisa bikin diri kita lebih baik. Aduh, jauh kan goalsnya. 

Membangun vibes juga termasuk menjalin hubungan dengan teman-teman. Kalau kita gengnya yang doyannya ngopi cantik sekali duduk 100 ribu, ya, agak susah kalau mau berhemat untuk prioritas anggaran yang lain. Bukan berarti kita jadi pilih-pilih teman, tapi lebih ke kontrol diri.

3)Kontrol Diri
Nah, masuk ke poin ini dari poin sebelumnya. Nggak apa-apa juga kalau kita punya geng yang doyan ngopi cantik. Asal kita punya kontrol diri yang kuat. Misal, disiplin untuk cuma sekali dalam 1 atau 2 bulan dine in ngopi cantik. Kalau emang mau ngejar kongkownya, tahan-tahanin untuk nggak ngopi. Entah kita bawa termos dari rumah, atau ya, nggak usah kepengen pesan.

Sama juga kayak saya, sih. Latihan banget untuk nggak bobol anggaran belanja akibat gofood, dengan memotivasi diri untuk lebih rajin masak.

Disiplin dan kontrol diri ini emang krusial. Karena kalau kita gampang tergoda ya, gampang aja beli ini beli itu, jajan ini jajan itu, padahal nggak kita anggarkan. Kalau sudah bablas yang keterusan, agak susah juga untuk mengubahnya (tapi, bukan yang nggak bisa juga). Insya Allah pasti bisa lebih baik mengatur keuangan, agar harta yang diamanahkan Allah ke kita berkah dan mendukung kehidupan untuk beramal sholeh.

Kalau dibilang nyesek nggak sih dengan cara mengatur keuangan yang salah di masa lalu? Jawabannya nyesek banget. Karena sebelum menikah, sebenarnya masih relatif lebih simpel yang dipikirkan. Hanya diri kita, orangtua, mungkin kalau ada kakak, adik, keluarga dekat lah pokoknya. Kalau setelah menikah, rasa-rasanya lebih kompleks banget yang dipikirkan. 

Beneran deh, harus memanfaatkan masa muda sebelum masa tua, masa jomblo, sebelum kehidupan rumah tangga yang menantang.

Semoga bermanfaat.

Salah satu akun yang memotivasi mengatur keuangan dengan lebih baik @zapfinance. Gaji segitu kalau bisa diatur sebegini rapi, beneran muda kaya raya!


Ps. IMHO, kaya adalah persoalan mental dan manajemen. Kalau dua ini sudah khatam, siapapun bisa kaya dengan izin Allah.
[Baca Selanjutnya...]

Kamis, 29 Agustus 2019

Blue Valentine: Marriage 101

Menonton film Blue Valentine yang dibintangi Ryan Gosling sebagai Dean dan Michelle Wiliams sebagai Cindy membuat saya memaknai kembali perjalanan pernikahan.

Rasanya pernikahan saya masih seumur jagung. Tapi, saya sadari sudah banyak sekali mengeluhnya. Padahal jika masih diberi umur, mungkin ujian yang saya dan suami hadapi belum seberapa.



Short Review

Saat Cindy bertengkar hebat dengan Dean, lalu Dean meminta pengertian Cindy untuk memahami 'the worst part of him' saya merasa tertegun. Sudahkah saya siap ketika harus menghadapi 'the worst part of my husband'? As we know, kita semua manusia yang pasti melakukan kesalahan.

Hubungan manis Cindy dan Dean sebelum menikah yang menjadi flashback dalam film ini membuat saya berpikir tentang up and down sebuah hubungan. 

Ketika hubungan kita dengan pasangan sedang dalam titik terendah, bisakah kita mengingat indahnya hubungan kita di masa lalu?



Saya terharu terhadap kegigihan Dean mempertahankan rumah tangganya. Bagaimana dia tidak segan mengemis maaf dari Cindy, lalu betapa carenya dia terhadap Frankie (putri mereka). 

Sebagai anak yang lahir dari keluarga broken home, Dean tidak mau Frankie mengalami hal yang sama. Sungguh manis. Mengingat sekarang ini perceraian dianggap sebagai sesuatu yang biasa dilakukan. Padahal meskipun itu hal yang wajar terjadi, bukankah kita masih bisa mengusahakan perbaikan? I don't know. Mungkin sekarang saya bisa berkata seperti ini. Who knows? Semoga Allah senantiasa menjaga keluarga saya. Aamiin.

Maka, saya sangat bersyukur karena dalam Islam pemutus perceraian adalah suami. Mengingat nature saya sebagai wanita (in case my personality) sangat mudah terbawa perasaan dan mungkin sulit berpikir panjang saat menghadapi masalah.

Komentar dan Refleksi

Of course the star in this movie is Ryan Gosling! Pernyataan-pernyataannya dalam film banyak yang menyadarkan saya.

Bagaimana Dean sebenarnya punya banyak keterampilan, berbakat dll, tapi dia memilih untuk kerja serabutan.

Bagaimana dia tidak menginginkan menjadi suami dan ayah. Tetapi, ketika takdir menggariskan dia untuk menjalani peran itu, he try his best.

Betapa bangganya Dean bisa fokus menjadi suami dan ayah tanpa perlu merumitkan masalah pekerjaan. Istilah sadisnya, buat apa sih kerja kalau malah kita nggak bisa menikmati waktu bersama anak dan istri. Duh, lupa detail kalimatnya Dean, yang jelas nampol banget pas scene dia ngucapin kalimat itu.

Salah satu masalah yang disorot di film ini, ketika Dean seperti tidak melakukan apa-apa untuk keluarganya (mungkin karena Dean nggak bekerja seperti umumnya para suami), lantas Dean pun mengalami kehilangan orientasi.

Baca Juga: Remember Me


Ah, sungguh menjadi tamparan ketika seorang pria seperti ini. All out menjadi ayah dan suami.

This movie strikes me in two important things in my life. Becoming good mother and wife as it should be.

Oh ya, dan satu lagi, betapa kadang para istri butuh liburan berdua dengan suami untuk kembali menyatukan hati dan mengingatkan bahwa dulu kita pernah hidup kasmaran nan penuh cinta. LOL. So cheesy.

Semoga bermanfaat!

Sampe nangis dong si Ryan Gosling!



Ps. Filmnya rating dewasa, jadi tontonlah dalam kondisi steril dari anak-anak. Film Hollywood emang begitu, valuenya udah oke, tapi tetep muatan sexnya terlalu vulgar, duh.
[Baca Selanjutnya...]

Rabu, 21 Agustus 2019

Survei Daycare di Bandar Lampung: Ibu yang Sedih, Lho, Nak!

Beberapa pekan yang lalu saya dan suami disibukkan dengan aktivitas mencari-cari daycare untuk anak saya.

Kok dititipin? Mau kerja lagi? 

Itu pertanyaan yang muncul, saat memberitahu bahwa saya sedang hunting daycare.

Jawabannya, mau kerja lagi, tapi remote dari rumah, alias mau nyeriusin nge-blog dan memburu job-job menulis yang lain. Terus juga butuh sehari yang bisa ninggalin anak karena ada aktivitas yang harus dilakukan mobile di luar rumah. Oleh suami sudah diizinkan, beliau juga menemani survei ke beberapa daycare tersebut. 

Padahal nih, niatnya menitipkan anak kami sehari saja. Nggak yang all day long in a month. Ternyata, syarat menitipkan sehari doang ini rada tricky di beberapa daycare, karena mereka prefer anak yang dititipkan continue, bukan yang temporal kayak saya begini.

Menitipkan yang harian begini dengan effort saya dan suami menyurvei satu per satu, rada lebay sepertinya. Cuma, nggak berani juga buat nggak menyurvei daycare yang dituju.

Berangkat dari situ, akhirnya saya dan suami beneran yang berkunjung satu per satu, ngelihat kondisi daycarenya, nanya-nanya aktivitas, biaya, dan sebagainya.


Hal mengejutkan dan tidak disangkanya adalah perasaan saya yang tiba-tiba mellow saat proses survei.

Halo, buibu? Ngerasain hal yang sama nggak sih?

Nggak nyangka saat menyusuri daycare demi daycare, yang muncul adalah perasaan sedih dan lebih ke nggak rela, anak saya bakal seharian sama orang lain (yang bukan suami atau orangtua saya atau kerabat dekat).

Padahal sebelum survei, di rumah saya yang semangat banget. Mikirnya, finally, seharian bisa me time ngerjain kerjaan, dst, dst. (Lho, weekend nggak bisa begitu? Answer: Nggak samsek! Weekend ibu-ibu mah, rasa weekeday. Occasionally aja bisa me time di weekend, cuma kok lelah amat weekend-weekend juga mikirin kerjaan).

Semangat itu terkikis sedikit demi sedikit seiring perjalanan saya berkunjung dari satu daycare ke daycare yang lain.

Hilang semangat yang berujung rasa nggak rela.

Akhirnya, batal dong nitipin anak saya ke daycare.

Alasannya, tentu saja daycare-daycare tersebut nggak memenuhi ekspektasi saya selayaknya sebuah badan yang akan mengasuh anak saya selama seharian.

Apa banget, ya, padahal cuma buat seharian doang. Tapi, gimana, dong, kayak yang berat gitu, saat mendapati zonk demi zonk realita di daycare.


Salah saya juga, sih, harusnya sebelum berkunjung, saya mengosongkan gelas terlebih dahulu. Sampai di rumah, baru evaluasi semuanya.

Hal yang terjadi, begitu masuk dan melihat satu dua hal yang kurang sreg, langsung asal coret dalam hati. Hilang niat buat menitipkan anak disitu.

Belum sharing dengan buibu yang lain, sih, apalagi sama mereka yang rutin menitipkan anak di daycare tersebut. 

Kadang kepikir (jahat), kok nitipin anaknya disitu, padahal kan begini dan begitu. Duh, sayanya aja yang rese' nih, karena mungkin standar daycare saya terlalu utopis untuk daycare-daycare yang saya survei kemarin. Atau mungkin saya harus punya daycare sendiri, supaya memenuhi ekspektasi pribadi? Boleh lah, dimasukkan ke wishlist.

Reaksi Aliyya, anak saya, bukan yang ogah-ogah amat. Bisa dimaklumi, awal-awal menginjakkan kaki di daycare langsung nemplok ke saya atau ayahnya. Ngobrol sama ibu pengurus daycare, katanya wajar kayak gitu. Beberapa anak pas awal ikut daycare juga tidak rela berpisah dengan emaknya, nangis, dsb, dsb. Bagian itu tidak terlalu khawatir, meskipun deg-degan juga ngebayanginnya.

Deg-degan berakhir lega karena untuk saat ini belum jadi menitipkan Aliyya ke daycare.
[Baca Selanjutnya...]

Selasa, 13 Agustus 2019

Nonton Bioskop yang Menjadi Kemewahan

Sebuah kemewahan. Itu yang nyampe di otak saya sewaktu suami mengizinkan me time nonton bioskop.

Secara tiket bioskop di weekend itu tidak murah sama sekali. Kalau dihitung-hitung, harga tiketnya setara bisa nyetok US beef slice satu pack (kurang dikit lah) atau ayam potong 2 ekor (ditinggal kepala kaki) atau ayam kampung seekor yang kecil. Sungguh rumit pemikiran ibu-ibu.



Sampai akhirnya bisa beneran masuk ke teater bioskop, nonton film dengan tenang tanpa kepikiran yang lain-lain, hingga ending nyimak keseluruhan film sampai bisa mengambil hikmah, beneran deh itu me time yang berharga banget.

Berharga buat saya yang suka nonton film (di bioskop). Kalau yang enggak suka, ya, mungkin mikirnya buat apalah bela-belain nonton di bioskop, toh, nanti keluar juga bajakan yang bisa didownload gratis. 

Hahahahaha. Sepakat sih kalau filmnya bukan film favorit saya. Tapi, kalau filmnya saya tunggu-tunggu banget, dan enggak sekadar pengen dapat efek sound atau visual yang ciamik, nonton bioskop itu bentuk solidaritas sebagai pekerja seni. Meski mungkin sang pekerja seni juga duitnya bukan dari tiket bioskop doang. Wkwkwk cari alasan pemberat banget nih biar tetep kuat alasan nonton bioskopnya.

Seperti banyak hal lainnya. Sesuatu yang sifatnya hiburan, trivia, dan sejenisnya, buat saya jadi privilege ketika benar-benar bisa dilakukan seorang ibu. Karena kadang pas lagi sibuk-sibuknya ngurusin rumah dan anak, ngebayangin bisa me time yang menghibur itu sungguh sempet-sempetnya. Apalagi sampe bisa terealisasi tanpa babibu atau mikir terlalu jauh. Panjang kali lebar deh kalau mau me time lebih dari 2 jam dan lokasinya lumayan berjarak dari rumah.

Kayak yang berat banget mau me time keluar rumah, apalagi yang dilakukan adalah nonton bioskop!

Kan dulu imej nonton bioskop masih negatif tuh. Beda di zaman sekarang, yang bioskop pun memutar film yang sarat hikmah.

Sayangnya, kadang film yang bagus, malah sepi penonton akibat penikmat film enggak ngerasa urgent untuk nonton film tersebut di bioskop.

Wkwkwk, ya, apa urgentnya sih ya. Selain sebagai hiburan (dan syiar) sebenarnya, eh.


Kadang, saking pengennya nonton, dan mikir kalau suami pun mungkin punya keinginan yang sama buat nonton bioskop, ada aja ide buat gantian jaga anak, terus gantian pula nonton bioskopnya. Saking pula menghindari anak terpapar bioskop di usia dini.

Tapi, akhirnya sampai sekarang belum terlaksana karena enggak tega sama anak, dan merasa belum ada film yang worth it dibela-belain sebegitu rupa.

Makin ribet mikirnya, karena suami cuma senggang di weekend yang seperti saya sebutkan di paragraf awal, harga tiket yang mahal menurut anggaran kami.

So, kata buibu, mewah enggak sih sebagai orangtua bisa nonton bioskop tanpa hambatan berarti?
[Baca Selanjutnya...]

Rabu, 07 Agustus 2019

Tertarik Rumput Tetangga


Terlalu banyak dan sering melihat teman-teman, malah jadi bingung sendiri dengan apa yang sebenarnya jadi target saya.


Lihat teman seorang ibu beranak satu yang dapet beasiswa S2 ke LN langsung latah kepengen. Padahal kalau nanya ke diri sendiri dengan pertanyaan sesimpel buat apa S2? Jawabannya gagu dan gamang.

Simpel sih kadang pengen jawabnya. Pengen cari ilmu aja. Pengen jadi orang yang berpengetahuan. Pengen otak terus terasah. Duh. Emang siap ntar kembali ke masa-masa dikejar deadline tesis, endebre-endebre, yang pas ngerjain skripsi aja udah bikin ngebul dan hampir nyerah? Kayaknya bagian itu pengen diskip aja. Cuma pengen bagian belajar dan nambah ilmunya deh beneran.

Jawaban kayak gitu bakal dicecar sama suami.

Kalau cuma itu alasan kepengennya, nggak usah S2 pun bisa. Cari ilmu sekarang nggak harus sesaklek itu jalurnya. Kecuali kalau memang mau jadi akademisi. Mau menyalurkan ilmu sampai ke penerapan praktis. Maybe pursue the master degree is that worth. Tapi, kalau alasannya masih dangkal, masih berhias-hias, S2 kan keren, apalagi buat ibu-ibu muda. Berasa mevvah gitu.

Okay, then, coret deh itu keinginan S2.


Selanjutnya pengen jadi pebisnis.

Ya, zaman now gitu loh. Emak-emak mana yang tak punya sambilan jualan selain momong anak. Segitu kasarnya kali ya pemikiran hamba. Tapi, emang sedahsyat itu gelombang quotasi, pintu terbanyak pembuka rezeki adalah dari berdagang. Ditambah panggilan menggema dari seluruh penjuru untuk emak-emak kembali ke rumah, memprioritaskan mendidik anak sendiri daripada bekerja siklus 8-17. Memang enggak semua terpanggil sih. Masing-masing punya pilihan. Pos-pos seperti dokter kandungan, perawat, dan masih banyak lagi juga enggak mungkin ditinggalkan.

Satu yang jelas, karib sesama ibu banyak banget yang punya bisnisan. Setiap update status yang muncul, apalagi dengan nada hard selling seolah memberi tantangan, 'Ayo, dia aja jualan loh. Masa' kamu enggak mau nyobain?'

Duh. Udah pernah nyobain sih. Tapi, jiwa pedagang saya beneran tumpul dan mungkin nyaris mati.

Sebenarnya bisa-bisa aja sih jualan. Tapi, yang enggak sepassionate itu loh. Seneng aja nyariin barang orang yang butuh, terus ambil untung tipis-tipis. Tapi, kalo soal pasang iklan barang dagangan, kebanyakan mikirnya. Padahal kan iklan itu nyawanya orang jualan. Betul kan?

Jadi penulis!

Duh. Saya tuh suka banget nulis (kalau lagi rajin!). Kalau malesnya kumat ya begitu. Dianggurin aja media-media untuk menulis yang bejibun.

Ditambah lagi nowadays, semua orang bisa menulis. Siapapun, dengan kualitas tulisan bagaimanapun, semua orang bisa menjadi penulis dan pasti menemukan target pembacanya masing-masing.

Ketahuan banget kan pengen jadi penulis yang spesial?

Iya! Karena kadang sedih aja kalau membaca tulisan sendiri yang sungguh sangat mainstream. Apalagi kalau yang ditulis adalah kengacoan tiada manfaat. Makin putus asa.

Padahal di dunia ini tidak ada yang sia-sia kan ya?

Selanjutnya, jadi ibu rumah tangga yang membersamai anaknya dengan penuh suka cita dan ide-ide kreatif untuk stimulasi otak anak demi masa depan yang cerah ceria.

Pengen banget bisa kayak gini.

Tapi, yang terjadi cuma semangat saat anak bayi <12 bulan. Setelah itu, bebaskeun aja lah mau main apa. Karena stok ide dan semangat ibu buat jadi teman main yang baik dan berkualitas sungguh jatuh ke jurang keputusasaan.

Kadang juga saya masih terombang-ambing, merasa bahwa dunia per-stay at home mom-an ini sungguh melunturkan jati diri saya.

So what?

Tentu saja masih meniti satu demi satu yang bakal dijadikan fokus tujuan. Karena akhirnya menyerah pada prinsip, 'Keep doing, keep going with everthing that have good values'. Apapunlah kerjain aja asal membawa lebih dekat ke surga.

That's it.

[Baca Selanjutnya...]

Minggu, 04 Agustus 2019

Antologi Rasa: Review Novel (First Time Reading Ika Natassa's)

Akhirnya nyemplung juga ngikutin arus baca novel kekinian. Gara- gara bingung, pengen baca novel, tapi enggak nemu novel yang enak dibaca.

Tiba-tiba keinget Ika Natassa. Ngintip salah satu teaser novelnya di Storial dan ngerasa wow! Tulisannya sungguh layak dibaca.


Cusss nyari Antologi Rasa (karena novel yang free ebooknya mudah dicari). Ampuni hamba ya Allah karena masih mendukung pembajakan. Baca baru satu bab dan ngerasa dunia yang jadi setting ceritanya, enggak saya banget. LOL.

Meskipun cerita kehidupan bankersnya enggak asing, secara itu kerjaan sehari-hari suami saya. Sebelas dua belas lah meski suami kerja di perbankan syariah, karena sama-sama bankers.

Gaya bahasanya yang mix bahasa inggris (dan latin buat judul-judul bab), terasa mendidik pembaca untuk paham dan cas cis cus ngerti bahasa Inggris juga. Sebab bahasa Inggris yang dipake penulis bukan yang sepotong-potong doang, melainkan yang beneran dipake percakapan keseharian orang dengan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu. Cocoklah kalau novel ini jadi favorit milenial yang ngomongnya campur aduk bahasa Inggris, ala anak-anak Jaksel dan BSD.

Meskipun topik ceritanya klasik banget (love story, of course!), tapi luasnya pengetahuan dan pergaulan sang penulis, bikin saya betah membaca novel ini.

Cerita cinta saling silang (meminjam istilah Dee) dan persahabatan Keara, Harris, Ruly, dan Denise, bikin saya tersihir dengan magic penulis mengemas kisah romantis kaum urban. Bikin saya realize bahwa, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Only God knows.

Berkorelasi sekali dengan yang sedang yang saya pikirkan akhir-akhir ini. Ketika saya sedang mengejar-ngejar sesuatu yang sifatnya duniawi, lalu saya berhasil mendapatkannya, somehow saya malah ngerasa hollow, kosong, dan kehilangan makna. Jeleknya manusia ya, so greedy. Jadi, sebenernya maunya apa? Ini kejadian sama Keara yang finally (spoiler) enggak lagi bertepuk sebelah tangan, padahal udah lebih dari 3 tahun memendam rasa.

Kalau berhak menilai, novel pertama Ika Natassa yang saya baca ini saya kasih skor 8/10. 

Saya beneran baca novel ini sepenuh hati loh. Enggak screening. Di sela-sela kesibukan saya sebagai emak-emak, saya berhasil menyelesaikan novel ini dalam waktu 3 hari, dengan durasi waktu membaca per harinya 2-3 jam. Sungguh saya sangat bangga terhadap diri saya sendiri. LOL.

Penggambaran karakter tokoh dalam Antologi Rasa sangat menarik karena menurut saya memanusiakan manusia. Meskipun saya belum pernah berkenalan dekat dengan personal seperti Keara dan tokoh-tokoh lain, yang jelas, lingkar pergaulan mereka banyak membuat saya tercengang. Minum wine dan bir kayak minum air mineral, pergi ke bar dibahasakan senormal jalan-jalan ke mall, belum lagi sex life yang diceritakan udah kayak di luar negeri sana. Oh my, saya beneran mainnya kurang jauh deh karena masih 'kaget' dengan hal-hal seperti ini.

Beberapa hal yang mengganggu dalam novel ini salah satunya adalah bahasa asing yang menurut saya porsinya cukup banyak. Meskipun sangat dimaklumi karena tokoh-tokohnya berlatar pendidikan luar negeri, Boston dan New York. Jadi, mungkin sayanya yang perlu meng-upgrade literasi berbahasa asing.

Ending novel juga saya rasakan seperti terburu-buru. Pas udah sampe di halaman-halaman akhir saya malah sedikit shocked karena berpikir, 'Lah endingnya gini doang?'. Penggambaran cerita yang solid di awal rasanya kurang nendang dengan penutupan seperti itu.



Membaca novel ini selain bikin saya semangat untuk menulis, juga bikin saya nyadar, 'Selama ini kemana aja?!' Novel yang sudah hits dari 8 tahun lalu, baru saya baca sekarang. Tapi, enggak apa-apalah, baru baca sekarang juga kena momennya, karena beberapa waktu yang lalu, adaptasi novel ke film layar lebarnya baru saja dirilis. Gimana komentar teman-teman yang sudah menonton?

Semoga bermanfaat.


Sumber gambar: Pinterest

[Baca Selanjutnya...]

Selasa, 19 Februari 2019

Ketika Gagal Menang Lomba Blog

Agak gimana gitu ya berani-beraninya nulis cerita tentang kegagalan menang lomba blog. Secara baru ikut blog competition bisa dihitung pakai sebelah tangan. Tapi, entah mengapa meskipun baru sedikit banget ikutan lombanya dan masih belum rezeki jadi pemenang, rasanya itu nyesek banget.

Padahal ya udah sering baca sharing bloger yang sering menang kompetisi bahwa mereka menang itu enggak yang 'mak bedunduk' atau 'ujug-ujug' menang gitu. Prosesnya panjang sebelum akhirnya menang.



Pun juga saya tahu benar loh alasan kenapa lagi-lagi tulisan saya kalah. Enggak sekadar tulisan saya jelek atau gimana.

Biar saya lega, udahlah saya mau share aja di blog, kenapa sih tulisan saya belum beruntung menjadi pemenang di beberapa lomba blog yang saya ikuti?

Pertanyaan yang saya batin sendiri dan terus saya jawab sendiri. LOL.

SKS (Sistem Kebut Semalam)
Kebiasaan super buruk seorang saya yang belum beres dari zaman dahulu kala. Hobi banget ngerjain sesuatu in last minute. Padahal saya udah bikin reminder lomba jauh-jauh hari. Ada yang 2 minggu sebelum bahkan ada yang sebulan sebelumnya. Tapi, ya, itu penyakitnya! Harus banget gitu ngerjain kebut-kebutan dengan deadline. Bisa loh padahal sebenernya ngerjain jauh-jauh hari. Entah mungkin adrenalin dan idenya belum match kalau ngerjain enggak kebut semalam. Hhh! Kesel lah sama diri sendiri. Hikmahnya, dengan begini saya jadi nemu ritme, bahwa kalau bikin tulisan buat lomba paling enggak saya harus nyicil 3 hari sebelum deadline. Itu tulisannya doang loh. Belum informasi visual pendukung.

Minim informasi visual
Yes! Saya perhatikan bloger yang menang lomba itu informasi visualnya keren banget! Mungkin karena lagi in juga ya infografis yang instagramable untuk dishare. Nah, itu! Infografis yang ciamik menurut saya jadi bobot nilai yang besar buat jadi pemenang. Sayangnya, saya enggak rajin untuk bikin detail kayak gitu. Belum pernah nyoba sih. Tapi, ngebayangin proses kreatif bikinnya mungkin harus H-7 hari atau lebih, udah harus nyicil ngebikinnya.

Konsep tidak kuat
Sebenernya enggak masalah, kalau kita mau bikin tulisan yang dilombakan dengan ngebut semalaman. Cuma yang saya bayangkan, sistem kayak gitu bakal kelar dengan memuaskan kalau konsep tulisan dengan segala pelengkapnya sudah dipikirkan dengan matang super jauh hari sebelum deadline. Jadi, tiap hari menuju deadline tinggal nyicil sedikit demi sedikit, mepet hari pengumpulan ya, tinggal final touch aja. 

Bah! Nyerocos gini kayaknya gampang ya. LOL. Praktek memperbaiki dirinya nih yang penuh perjuangan. Enggak apalah, kegagalan yang sekarang bener-bener harus dijadiin pelajaran.

Satu lagi, kalau suami saya bilang, sebenernya yang penting dari keikutsertaan saya dalam lomba blog, bukan masalah menang atau kalahnya, tapi dorongan supaya saya lebih produktif dan semangat menulis. Itu yang seharusnya menjadi spirit.

Hm, tapi kan, ya, hadiah lomba blog itu sangat menggiurkan, pak.

Emang sih, kadang jeleknya saya, begitu beres nyelesein satu tulisan lomba, besoknya malah ngadat nulis karena tulisan untuk lomba itu biasanya menguras energi pikiran banget. Makanya, biasanya kayak yang butuh refreshing sejenak dari ngepost di blog. Padahal mah sebaliknya. Mengutip perkataan mbak Izzah Annisa, beres satu lomba mah, lupain, dan lanjut nulis lagi. Serupalah sama nasehat suami saya.

Hosh! Bismillah! Semoga makin semangat nulis dan latihan untuk ikut blog competition setelah ini.


[Baca Selanjutnya...]

Senin, 21 Januari 2019

Yakin Pengen Menikah?

Ada masanya saya begitu pengen menikah muda. Sampe dimana-mana kalau ditanya ada keinginan apa, langsung teringat, pengen nikah muda!

Sungguh naif sekali pada zamannya.

Hal yang dipikirkan cuma enak-enaknya menikah aja. Lebih terjaga, ada tempat curhat 24 jam, ada yang menafkahi, and so on. Keinginan yang cuma diisi pengetahuan indahnya menikah aja dan enggak diimbangi dengan wawasan tentang rentetan resiko dan kewajiban setelah menikah.

Ada kali 2 tahun-an yang saya terus berdo'a, 'Ya Allah, dekatkanlah jodoh hamba'. Lalu akhirnya tersadar karena ketemu sahabat-sahabat yang bisa diajak bertukar pikiran bahwa menikah enggak seindah itu lho. Ya, mungkin ada part indahnya, tapi enggak melulu indah.

Karena pengetahuan baru tersebut akhirnya redaksi do'anya berubah. Keinginan untuk menikah pun enggak semenggebu dahulu kala.

Jadi pelajaran penting bahwa menikah itu enggak sekadar kepengen doang. Triggernya bisa kepengen itu sih. Tapi, setelah kepengen itu harus diimbangi aksi untuk cari tahu seluk beluk kehidupan pernikahan. Sebagai insight diri kita sendiri. Beneran enggak kita kepengen nikah? Kepengen yang memang diri kita sudah siap dengan segala tanggungjawab yang menyertainya, atau kepengen karena baper ngelihat kebahagiaan pasangan muda halal kekinian?
To the wedding by Pinterest

Menikah itu enggak bahagia terus loh isinya.
Di surga kali itu yang isinya thok kebahagiaan. Karena dimensi pernikahan itu masih terjadi di alam dunia, harus siap kalau nanti ketemu saatnya perasaan kita berdarah-darah menahan pilunya ujian pernikahan. Sebabnya entah ujian dari luar kita dan pasangan, misalnya ngerasain enggak nyamannya diteror karena belum punya momongan, atau konflik internal dengan pasangan.

Harus belajar mengelola perasaan.
Ketika mengikrarkan diri siap menikah, harus siap mengurangi dan bahkan mengikis perasaan yang terlalu sensitif alias baper. Ada kalanya kita enggak perlu terlalu memikirkan sesuatu hal alias santai aja lah. Ada kalanya pula kita perlu merenung dan mendalami ketika akan membuat suatu keputusan. 

Contohnya nih, udah capek-capek masak sesorean, tapi suami enggak makan malam di rumah. Meskipun rasa hati pengen bantingin piring dan gelas keinget capeknya masak, yang kayak gitu enggak perlu terlalu dibawa perasaan. Mungkin suami punya alasan kenapa enggak makan malam di rumah. Bisa jadi menghormati teman-teman kantor yang ngadain acara syukuran atau terlalu capek jadi sampe rumah langsung pengennya istirahat. Contoh lain, misal suami ngajakin ngambil kredit barang xxx nih. Baiknya enggak asal 'Iya deh. Gimana mas suami aja', tapi dipelajari dulu, jadikan bahan diskusi berdua. Masalah kredit, utang, enggak menyangkut suami doang kan. Kita sebagai istri juga harus tahu dan paham.

Nah, kalau sekarang masih single dan gampang banget sensi atau baper, mungkin Allah pengen kita belajar lagi untuk ngurang-ngurangin bapernya, sebelum ketemu ujian perasaan yang lebih dahsyat dalam kehidupan berumah tangga.

It takes two to tango.
Berkaitan sama poin kedua soal mengelola perasaan. Enggak cuma istri doang, atau suami doang yang perlu belajar. Kedua belah pihak harus sama-sama belajar dan saling pengertian. Misal nih, masih melanjutkan contoh di poin kedua. Pas udah disiapin makan malam sama istri, meski perut udah kenyang, paling enggak icip dikit lah masakan istri. Atau kalau udah enggak kuat makan lagi, temenin lah istrinya itu di meja makan. Mungkin istri-istrimu rela nahan laper lho, pak  bapak, demi bisa makan malam bersama. Jadi, sama-sama saling peka aja lah.

Apalagi kalau udah ngomongin parenting. Wah bisa jadi satu bahasan sendiri ini mah. Misal pengen punya anak yang sholeh-sholehah, cerdas, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Eh, tapi, enggak meluangkan waktu quality time sama anak (to bapak-bapak mostly) dan nyerahin semua tugas yang berkaitan sama anak ke istri doang. Nay, nay! Bagai pungguk merindukan bulan dong. 

Kalau mau punya anak yang high quality, orangtuanya juga harus high quality dulu. Salah satunya, harus mau bersusah payah untuk mendalami ilmu parenting bareng-bareng. (Wkwkwk yang nulis ibu-ibu sih ya. Mohon maap kalau nyerang bapak-bapaknya terus. Kebeneran aja kayak gitu studi kasus yang kepikiran #Ngeles).

Masalah menjadi jauh complicated.
Yes, kalau ngerasa kehidupan saat single udah penuh masalah, jangan khawatir, ujian belum selesai sampai di situ. Namanya kehidupan dunia, ya, pasti penuh ujian dan cobaan. Kalau kehidupan lempeng-lempeng aja, antara Istidraj atau ujiannya lewat kelempengan itu. Nah, masalah rumah tangga jauh lebih pelik daripada masalah saat masih single dulu. Zaman masih mahasiswa, kita bakal pusing tujuh keliling liat rekening yang udah tinggal beberapa digit padahal kiriman ortu berikutnya masih jauh. Hm, kalau udah nikah lebih pelik lagi, karena yang dipikirin enggak cuma diri sendiri, tapi, ada pasangan, anak yang mungkin enggak cuma satu, belum lagi kalau ada yang masih di kandungan. Yes, marriage push yourself to be tough as ever!


Menikah itu jebakan betmen?
Hm, ya, iya sih, kayak gitu kalau kita ngelihat menikah sekedar prosesi kehidupan dunia semata.

Nyesel kan udah nikah?
Hm, ya enggak gitu juga.

Inspite of segala hal yang kayaknya enggak mudah saat menjalani kehidupan pernikahan, dengan menikah kita naik tingkat untuk menjalani fase kehidupan berikutnya.

Kalau buat saya pribadi, pernikahan memaksa saya untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang selanjutnya dan seterusnya. Kalau menengok ke belakang dan posisi saya belum menikah, tantangan yang saya hadapi mungkin bakal itu-itu saja.

Ya, meskipun saat ini pun saya masih sering ketemu masalah-masalah yang itu-itu lagi. Tapi, feelnya beda dan lagi-lagi dipaksa untuk menjadi lebih dewasa sekaligus bijak, karena secara status pun udah berubah menjadi seorang istri dan ibu.

Satu hal yang saya sesali tentang kehidupan pernikahan ini adalah ketidaksiapan saya menyiapkan kehidupan pernikahan.

Menikah dengan modal kepengen doang itu sah-sah aja sih. Cuma ya harus siap zonk kalau kepengenan itu tidak disertai banyak ilmu.

Kayak saya.

Minus banget pengetahuan soal kehidupan pernikahan makanya zonk.

Makanya, saat single adalah best moment untuk cari ilmu sebanyak-banyaknya. Jadi, nanti pas sudah nikah dan punya anak, ibarat naik kendaraan udah enak aja gitu tinggal jalan. Ya, kalau lupa-lupa dikit, liat contekannya juga sekilas aja buat memantik ilmu yang udah dipelajari.

Enggak kayak saya yang kalau diibaratkan, nyetir sambil buka peta sambil ngecek posisi spion kendaraan udah bener atau belum. Ibaratnya di perjalanan itu sambil ngapalin jalan dan sambil ngelancarin bawa kendaraan. Repot kan?

Tapi, ya, enggak usah disesali berlarut-larut. (Menghibur diri sendiri).

Sekarang pe er nya adalah enggak boleh skip belajar. Harus makin rajin belajar, baca, cari ilmu. Meskipun jadi kayak kuis dadakan. Baru baca teori langsung diuji suruh nge-aplikasiin. Mantap kan?

Apapun itu tetap lebih banyak yang saya syukuri daripada yang disesali.

Semoga bermanfaat.
[Baca Selanjutnya...]